Program Desa Bebas Api yang Dijalankan PT RAPP Didukung Oleh BNPB

Image Source: APRIL
Image Source: APRIL

Perfodev - Kebakaran lahan dan hutan selama ini sudah menjadi perhatian serius bagi PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP). Unit bisnis APRIL Group ini konsisten menjalankan Program Desa Bebas Api. Karena dirasa sukses, banyak pihak yang mendukung kegiatan tersebut, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). 

Program Desa Bebas Api merupakan upaya pengelolaan risiko kebakaran yang dicanangkan oleh APRIL. Produsen pulp dan kertas terkemuka ini mulai merintisnya sejak 2014 sebagai terobosan baru dalam manajemen pengelolaan kebakaran. 

Sebelum ada Program Desa Bebas Api, sifat kegiatan pengelolaan kebakaran adalah reaktif. Aktivitas hanya dilakukan ketika api telanjur berkobar melahap lahan dan hutan. Namun, induk perusahaan PT RAPP itu ingin mengubahnya. Mereka mengajukan konsep pencegahan kebakaran dengan peran aktif masyarakat sekitar yang menjadi inti kegiatan. 

Di dalam Program Desa Bebas Api, masyarakat diajak untuk mencegah kebakaran. Mereka diberi penyadaran atas bahaya api. Selain itu, ada pula insentif sebagai daya tarik agar warga mau menjaga wilayahnya dari kebakaran. 

Adapun insentif diberikan kepada desa yang berpartisipasi dalam program. Bentuknya berupa dana hibah senilai antara Rp 50 juta hingga Rp 100 juta. Nanti, dana itu diberikan dalam bentuk bantuan pembangunan infrastruktur. Syaratnya adalah warga mampu menjaga wilayah desanya aman dari kebakaran selama musim kebakaran. 

Program Desa Bebas Api ini terus konsisten dijalankan oleh RAPP Riau. Kesuksesan pun diraih. Tingkat kebakaran di desa-desa yang berpartisipasi menurun atau bahkan hilang sama sekali. Sebagai contoh adalah situasi pada 2017. 

Menurut data dari tim manajemen dan perlindungan api strategis APRIL sejak Juli hingga September 2017, luas lahan yang terbakar di kawasan konsesinya menurun. Jumlahnya mencapai hingga 92 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya. 

Keberhasilan yang dicatat bukan hanya itu. Mereka juga menemukan bahwa rata-rata ukuran lahan yang terbakar semakin mengecil. Pada 2016, kawasan yang dilahap api rata-rata seluas 6,1 hektare. Namun, pada 2017, luasnya menurun hingga hanya 1,6 hektare belaka. 

Kesuksesan itu menarik banyak pihak. Akhirnya Program Desa Bebas Api memperoleh dukungan yang semakin besar. Salah pihak yang mendukungnya secara penuh adalah BNPB. 

BNPB menilai Program Desa Bebas Api yang dijalankan RAPP sangat menarik. Di sini, ada kerja sama antarpihak yang dirasa penting dalam pengelolaan risiko kebakaran. 

"Kunci keberhasilan pencegahan kebakaran lahan dan hutan adalah kolaborasi pemangku kepentingan,” ujar Kepala BNPB Willem Rampangilei di Tempo.co. 

Hal itu memang tepat. Dalam Program Desa Bebas Api, sektor swasta seperti Riau Andalan Pulp & Paper menjalin kerja sama dengan berbagai pihak mulai dari masyarakat, pemerintah, hingga sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat. Semuanya berkolaborasi menjaga api tidak melahan lahan dan hutan. 

Akan tetapi, Program Desa Bebas Api baru dilaksanakan di Riau. Pada 2017 sudah ada 18 desa yang berpartisipasi. Hal itu membuat ada wilayah seluas 750 hektare yang terjaga secara penuh dari bahaya kebakaran. 

BNPB melihat konsep Program Desa sangat fleksibel. Ini dipandang bisa diterapkan di berbagai tempat di Indonesia. Willem menandaskan program yang dijalankan PT RAPP itu dapat diperluas dan diadopsi oleh pihak lain. “Pencegahan kebakaran memerlukan komitmen dan kesadaran yang kuat dari berbagai pihak,” tambahnya. 

Adopsi Program Desa Bebas Api memang sudah dijalankan oleh pihak lain. Salah satunya ialah dalam Aliansi Bebas Api (Fire Free Alliance). Ini adalah kolaborasi sejumlah perusahaan swasta dan lembaga swadaya internasional untuk bersama-sama menanggulangi ancaman kebakaran lahan dan hutan. 

Dalam Aliansi Desa Bebas Api, mereka berhimpun untuk mengumpulkan sumber daya, pengalaman, dan kemampuan dalam manajemen risiko kebakaran. Mereka sengaja mengadopsi Program Desa Bebas Api karena dirasa bisa diterapkan di mana saja dan terbukti sukses.

BERKAITAN ERAT DENGAN MITIGASI BENCANA


Image Source: APRIL
Image Source: APRIL

Dukungan yang diberikan kepada Program Desa Bebas Api dirasa menggembirakan. PT RAPP mengapresiasinya karena hal itu akan mengembangkan upaya pencegahan kebakatan tersebut. 

Secara khusus, Direktur RAPP Riau, Rudi Fajar, menyambut baik dukungan BNPB bersama dengan TNI, Polri, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Ia berkata, “Semoga Program Desa Bebas Api ini dapat terus tumbuh dan menginspirasi berbagai pihak untuk melakukan pencegahan kebakaran.” 

Kebakaran memang tidak bisa dipandang enteng. Kejadian pada 2015 bisa menjadi pengalaman berharga. Ketika itu api berkobar di sejumlah lahan dan hutan di Sumatera dan Kalimantan. Dampaknya sangat banyak. Kabut asap tercipta sehingga mengganggu kesehatan hingga melumpuhkan aktivitas keseharian. Belum lagi kerugian jiwa ataupun keanekaragaman hayati juga ikut rusak akibat kejadian tersebut. 

Jika ditotal, kerugian yang dirasakan cukup besar. BNPB mencatat kebakaran hutan dan lahan pada Juni hingga Oktober 2015 memakan kerugian finansial hingga Rp 221 triliun. Jumlah tersebut di luar penghitungan kerugian sektor kesehatan, pendidikan, plasma nutfah, emisi karbon dan lainnya. 

"Kerugian ini setara dengan 1,5 persen Produk Domestik Bruto nasional, artinya kebakaran lahan dan hutan menghambat laju pembangunan," kata Kepala Pusat Data dan Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho di Republika. 

Melihat efek yang ditimbulkan sedemikian buruk, kebakaran lahan dan hutan hendak dihilangkan sama sekali. Program Desa Bebas Api bisa dipandang oleh BNPB sebagai salah satu bentuk mitigasi bencana. Hal itu dimungkinkan karena di dalam upaya yang dijalankan oleh RAPP tersebut terdapat sejumlah kegiatan yang komprehensif dalam menekan kebakaran. 

RAPP Riau mendesain Program Desa Bebas Api dengan lima kegiatan yang bisa mencakup semua aspek pencegahan kebakaran. Pertama adalah sosialisasi bahaya api. Di dalamnya mencakup upaya RAPP untuk menyadarkan tentang kerugian yang ditimbulkan jika lahan dan hutan terbakar. 

Di sini PT RAPP juga berupaya menumbuhkan kesadaran untuk mengubah sejumlah kebiasaan buruk seperti membuka lahan dengan membakar. RAPP mengunjungi desa-desa hingga sekolah-sekolah untuk melakukan sosialisasi. 

Sementara itu, kegiatan kedua dalam Program Desa Bebas Api ialah pendampingan pertanian. Harus diakui, kerusakan hutan sering terjadi karena tuntutan ekonomi. Masyarakat membuka lahan untuk bertani. 

Kebiasaan itu hendak diubah dengan sistem pertanian lestari. RAPP Riau mengajari warga tentang cara bertani dan berkebun yang benar. Diharapkan hal itu akan meningkatkan produktivitas pertanian sehingga tidak perlu ada pembukaan lahan baru. 

Kegiatan selanjutnya adalah pembentukan Crew Leader. Ia adalah orang yang menjadi garda terdepan dalam pencegahan hutan di desa-desa. Crew Leader diajari sejumlah keterampilan pemadaman api hingga cara pencegahan kebakaran. 

RAPP juga menjadikan mereka sebagai penghubung dengan warga desa. Hal ini akan memudahkan koordinasi ketika ada warga yang membutuhkan dukungan dari mereka. 

Program Desa Bebas Api dilengkapi pula dengan pemantauan kabut dan asap. PT RAPP menyediakan sejumlah alat indikator kualitas udara di sejumlah titik. Selain itu, mereka menyediakan tim untuk melakukan patroli. Tujuannya agar ada respons cepat ketika ada api yang berkobar. 

Semuanya itu ditambah dengan insentif kepada warga desa. Hal itulah yang membuat Program Desa Bebas Api yang dijalankan Riau Andalan Pulp & Paper terus berkembang sehingga didukung oleh berbagai pihak seperti BNPB.
Share on Google Plus

About Irwan Rifani

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar